Pakaian Adat Mandar Memiliki Hiasan Pelengkap

0
17

Suku Mandar, salah satu yang memiliki ragam pakaian adat dengan corak dan juga desain khusus. Memiliki detail dan juga hiasan pelengkap yang berlandaskan sebuah filosofi. Berikut beberapa fakta dan hal-hal unik lainnya berkaitan dengan pakaian adat Mandar, Pattuqduq Towaine.

Pakaian Kebudayaan Adat Mandar

Setiap kebudayaan memiliki perbedaan yang menimbulkan keberagaman. Berdasarkan keadaan tersebut, maka tidak heran jika beberapa aspek budaya yang berkaitan juga akan terpengaruhi.

1. Memiliki Hiasan Pelengkap
Setiap busana adat memiliki hiasan pelengkap yang digunakan untuk memperindah tampilannya. Seperti halnya pada Pattuqduq Towaine, biasanya terdapat sebuah hiasan yang digunakan oleh kaum perempuannya. Hal ini juga menunjukkan bahwa terdapat sebuah makna simbolik akan budaya yang dianut terhadap kemewahan yang ada pada diri perempuan dan kesederhanaan untuk kaum laki-laki.

Tiket Masuk di Bukit Galung Paara
Bukit Galung Paara, Panorama Alam Eksotis dengan Hamparan Rumput Hijau di Majene
Pertama Anda harus tahu apa yang dijadikan untuk penghias kepalanya. Pada busanaa adat Mandar, bagian rambut perempuan yang menggunakan busana tersebut biasanya akan dilengkapi dengan sebuah hiasan berbentuk bunga dan juga sanggulan.

Bentuk bunganya melingkari sanggulan dan berwarna emas biasanya disebut dengan istilah gal. Aturan penggunaannya disesuaikan dengan status sosial pengguna.

Kedua yaitu hiasan yang diletakkan pada bagian tubuh selain tangan dan kaki. Jenis yang digunakan ada bermacam-macam jenisnya diantaranya yaitu perisai (Kawari), kalung koin emas (tombi Diana), sarung motif segi empat berwarna hijau dan merah (tombi sare-sare), tombi tallu dan juga anting (dali). Sedangkan untuk pemakaian kawari diletakkan pada bagian sekitar pinggul.

Ketiga yaitu hiasan yang digunakan pada bagian tangan. Perlengkapan yang dimaksud yaitu Gallang Balleq berupa sepasang gelang degan ukuran yang dimilikinya sekitar 15- 20 cm diletakkan di kedua pergelangan tangan. Jumlahnya beragam tergantung tujuan penggunaanya. Selanjutnya juga ada gelang yang diletakkan di bagian lengannya diberi nama Poto.

Pada bahunya juga diberikan sebuah gelang yang diberi nama Jimma Salletto, biasanya akan penggunaannya dikaitkan dengan sebuah gelang lainnya bernama Teppang. Sedangkan bagi kaum wanita yang memiliki darah bangsawan biasanya diganti dengan Jima Maborong. Terakhir ada kaliki sebagai ikat pinggang serta gelang dengan buliran 8 seperti kelereng yaitu Sima-Simang.

2. Kegunaannya untuk Menari dan Menghadiri Pesta
Tahukah Anda kalau biasanya baju adat hanya memiliki satu fungsi yaitu sebagai gaun untuk pergi ke sebuah pesta pernikahan atau acara adat, ternyata pakaian adat mandar juga digunakan slot gacor gampang menang sebagai busana menari. Lalu, apakah terdapat perbedaan diantara dua fungsi penggunaannya tersebut? tentu saja ada. pada saat akan digunakan menari jumlah potongan baju yang dikenakan hanya berjumlah 18 potong.

Sedangkan untuk penggunaan acara adat atau pernikahan biasanya berjumlah 24 potong. Lengkap dengan berbagai bentuk aksesoris yang menjadi pelengkapnya. Keduanya memiliki sebutan yang berbeda, untuk menari disebut dengan baju pokko, sedangkan yang digunakan untuk menghadiri sebuah acara adat atau pernikahan disebut dengan busana rawang bono.

Filosofi yang Dimiliki Pattuqduq Towaine

1. Jenis Penghias Rambut Sebagai Penentu Status Sosial
Tahukah Anda bahwa penghias rambut yang digunakan sebagai pelengkap pakaian adat Pattuqduq Towaine bagi perempuan memiliki sebuah makna simbolik dibalik penggunaannya. Diketahui bersama terdapat sebuah bunga yang terbuat dari logam emas dan ditancapkan melingkar pada sanggul tambahan bagian kepala atau rambut.

Jenis dari penghias tersebut ternyata tidak sembarangan digunakan untuk menambah estetika saja. Karena ternyata setiap pemilihan jenis tusuk bunga emas tersebut disesuaikan dengan siapa yang memakainya. Bagi seorang wanita dai keluarga bangsawan biasanya akan berbeda bentuknya dengan wanita dari keluarga rakyat biasa. Oleh karenanya, hal ini juga menunjukkan status sosial pengguna.

2. Jumlah Penghias Bagian Badan Sebagai Penentu Status Sosial
Informasi kedua yang tidak kalah menarik, yaitu makna simbolik yang terdapat pada hiasan pelengkap yang digunakan pada pakaian adat Mandar perempuan. pada sebuah ketentuan yang berlaku bahwa untuk penggunaan perisai (kawari) jumlahnya ditentukan dengan melihat status sosial yang menggunakannya.

Biasanya untuk perempuan yang berasal dari golongan keluarga atau keturuan seorang bangsawan diperlukan sekitar 4 biji perisa ditempatkan di bagian pinggulnya. Kemudian bagi perempuan dengan status sosial dari keluarga golongan orang biasa, digunakan sekitar 2 biji saja. Hal ini juga menjadi satu cerminan kebudayaan yang berkembang pada masa dahulu.

3. Perhiasan Tangan
Selain perhiasan kepala dan juga badan yang memiliki makna simbolik terkait status sosial dari penggunanya, perhiasan bagian tangan juga memiliki pemaknaan sama. Dimana hal ini berkaitan juga dengan kedudukannya di dalam masyarakat. Biasanya untuk pembedanya terletak pada bagian hiasan spaceman yang penggunaannya dikaitkan dengan jalinan Teppang.

Pada bahu perempuan dari golongan rakyat biasa akan dipasang sebuah gelang lebar bernama Jimma Salletto. Sedangkan untuk perempuan dari golongan bangsawan diganti dengan gelang lain yang serupa dengan nama Jima Maborong. Tentu keduanya memiliki bentuk dan juga ciri khas yang berbeda sebagai pembeda yang terlihat sangat jelas.